KESEHATAN
Remaja Tidur Larut Malam Rentan Kegemukan
Sering Begadang Rentan Kegemukan
Peneliti dari the Sleep and Mood Research Clinic, University of
California, mempelajari pengaruh jam tidur terhadap berat badan
seseorang.
Penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran
SLEEP ini menemukan bahwa remaja yang tidur larut lebih mudah mengalami
kenaikan berat badan dibanding mereka yang tidur lebih awal.
Obesitas dan jam biologis
World
Health Organization telah menyatakan obesitas sebagai epidemi global.
Obesitas merupakan sebuah penyakit multisistem yang mempengaruhi
kesehatan fisik maupun emosional seseorang.
Saat ini di
Indonesia khususnya, masalah obesitas masih dilihat sebagai
ketidakseimbangan antara aktivitas fisik dan pola makan seseorang. Namun
tidak demikian di negara-negara maju, yang telah meneliti efek
kesehatan tidur bagi sistem metabolisme seseorang.
Pola
tidur-terjaga atau irama sirkadian, yang dikontrol oleh jam biologis,
ternyata sangat mempengaruhi sistem metabolisme seseorang. Pada remaja,
para ahli menemukan bahwa mereka cenderung untuk tidur lebih larut.
Beberapa
penelitian mengaku menemukan sekitar 40 persen -60 persen remaja lebih
suka tidur larut. Jika semula mereka tidur di jam 9:00-10:00 malam,
perlahan kita dapati tidur di atas jam 11:00 malam.
Di luar itu,
penelitian yang diterbitkan pada jurnal Eating Behaviour tahun 2009,
mendapati bahwa remaja yang tidur larut, cenderung lebih banyak
mengonsumsi makanan cepat saji dibanding yang tidur lebih cepat.
Jurnal
SLEEP tahun 2011 juga sebutkan bahwa remaja yang tidur larut 2 kali
lebih beresiko alami obesitas dibanding yang tidur awal.
Tidur
larut, kurang tidur dan kantuk berlebihan di kalangan remaja sudah
menjadi masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Beberapa penelitian
sebutkan angka 45 persen - 80 persen remaja alami kurang tidur di
hari-hari sekolah. Yang tentu saja berakibat langsung pada prestasi
akademis, olah raga, kesehatan dan kenakalan pada remaja.
shutterstock Ilustrasi
Penelitian
Kelompok
peneliti menganalisa data dari 3.300 remaja dan dewasa. Jadwal tidur
selama 5 tahun diikuti. Didapati bahwa setiap jam kekurangan tidur akan
meningkatkan BMI sekitar 2,1. BMI (Body Mass Index) atau indeks massa
tubuh adalah ukuran kegemukan seseorang yang berkisar antara 18,5-30.
Disimpulkan bahwa semakin larut remaja tidur, semakin besar juga kemungkinan pertambahan berat badannya.
Di
Amerika, manusia dewasa didapati semakin kurang tidur. Dari data 2013
oleh National Sleep Foundation didapati bahwa tidur semakin berkurang.
Orang Amerika rata-rata tidur 6,5 jam setiap harinya. Sangat kurang
dibanding kebutuhan tidur dewasa yang berkisar antara 7-9 jam perhari.
Sementara itu lingkar pinggang juga bertambah 4 kali lipat. Diperkirakan
35 persen orang mengalami obesitas.
Kesimpulan
Jam
biologis remaja yang cenderung tidur larut patut diwaspadai. Dalam
praktek sehari-hari semakin banyak didapati keluhan remaja yang
mengalami kantuk berlebihan di siang hari. Akibatnya performa pun
menurun drastis. Belum lagi resiko alami kecelakaan lalu lintas akibat
kantuk.
Kegemukan pada remaja dipicu juga dengan kecenderungan
ngemil saat terjaga hingga larut dan kecenderungan kehidupan digital 24
jam. Apalagi dengan semakin dimudahkannya akses makanan cepat saji di
tengah malam. Dengan jumlah tidur rata-rata 6 jam 45 menit sehari,
Indonesia terancam alami penurunan kualitas sumber daya manusia.
Prioritaskan kesehatan tidur untuk kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar